Habis baca berita jadul. Dari tahun 2007, pas jaman Pilkada juga. Dulu si Kumis yang ketempa isu SARA. Katanya gara2 dia lulusan Kanisius jadi dekat dengan Vatikan dan kalo jadi gubernur nanti tujuannya melemahkan Islam. Dulu sih pas dituduh gitu dia katanya marah-marah, tapi sekarang pas hal yang sama terjadi sama saingannya, kayanya seneng-seneng aja ya.
Yang disayangkan adalah keberadaan kelompok-kelompok yang enggak bosan-bosannya meniupkan isu-isu seperti ini. Entah kenapa ya, mungkin mereka merasa semua dunia menentang agamanya. Seluruh dunia berkonspirasi untuk melemahkan Islam. Selalu agamakuw yang tertindaz, selalu agamakuw yang digangguin hiks. Gila kali ya mereka.
Gua rasa mau siapa yang jadi cagubnya juga, dicari-cari nih hubungannya. Kalo di tetangganya ada gereja, dibilang dia Kristen fanatik yang tinggal di lingkungan Nasrani. Kalo dulu mobilnya beli dari orang Kristen, katanya dia turut menyumbang ke organisasi berbasis agama yang ingin merusak syariah Islam. Kalo dia pelihara anjing yang diimpor dari negara non-muslim, mungkin dibilang dia punya anak buah yang siap menyebarkan agama orang kafir dan melenyapkan Al-Quran dari mesjid.
Hobi kali ya. Mungkin berasanya kudu tertindas terus, terus berperang melawan kebejatan duniawi, biar amal pahalanya besar kelak di surga sana. Yang kasian adalah orang-orang yang menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar. Nama agamanya jadi jelek kan. Bikin malu aja. Ujung-ujungnya yang sok-sok tertindas itu ya gak pernah jera, gak pernah kena akibatnya. Selalu yang baik-baik yang akan kena getahnya. Ah, emosi.
Nonton berita Pilgub Jakarta, makin hari makin seru aja. Meskipun saya terhibur dengan kelakuan sinetron dari para politikus kita, perlu diingat ini adalah sebuah event penting yang akan menentukan garis besar masa depan Jakarta untuk 5 tahun ke depan. Jakarta adalah barometer dari negara kita. Nasib Jakarta selama 5 tahun ke depan tentu saja akan banyak mempengaruhi nasib negara kita juga, sehingga meskipun sinetron Pilgub dipenuhi dengan karakter-karakter yang lucu-lucu, penting agar kita sebagai warga Jakarta tidak menganggapnya sebagai komedi, dan perlu mendukung secara penuh agar tidak berakhir sebagai tragedi.
Yang menarik sih sekarang berita dipenuhi sama aktivitas agresif dari tim sukses gubernur petahana yang berkumis itu. Kalo kampanye ya wong banggain diri gitu ye, saya udah mimpin Jakarta 5 taun punya prestasi ini ini ini, semenjak saya pimpin Jakarta jadi bisa ini ini ini terus rencana saya visi saya itu Jakarta ke depannya bisa melakukan ini ini ini. Eeh, kampanye bisanya ngorek-ngorek borok lawannya. Kalau tim Jokowi-Ahok sih, tanpa perlu mengorekpun, boroknya sang gubernur sudah bisa kelihatan sendiri. Contoh dong ya, Jokowi, meskipun katanya pencitraan dsb, bisa memamerkan prestasinya di Solo. Wakilnya aja bisa memamerkan track recordnya di Belitung Timur, yang sebenernya luasnya 3x Jakarta.
Akhir-akhir ini yang menjadi sasaran ya Pak Ahok, sang calon wakil gubernur. Memang identitas Pak Ahok merupakan sasaran empuk bagi orang-orang yang menganggap masyarakat itu picik, berusaha meraih kekuasaan dengan mengorbankan pluralisme dan solidaritas. Pak Ahok kmaren diserang dari sisi agama, katanya jangan mau dipimpin sama orang yang non-muslim. Terus lagi leluhur Pak Ahok diserang, katanya ngapain dipimpin orang Cina (liat di sini, saya bisa membayangkan kesalnya Pak Ahok yang harus sampai perlu untuk menegaskan, bahwa dia adalah orang Indonesia yang cinta sama negerinya)
Sekarang ada lagi, katanya Ahok enggak amanah, enggak berprestasi dan ternyata korupsi juga.
Ini saya lampirkan link yang mendukung dan menentang Pak Ahok.
Silakan baca ceritanya dari berbagai sisi. Saya percaya warga Jakarta cerdas dan bisa memutuskan sendiri siapa yang sukanya membuat-buat dan menebarkan gosip yang kebenarannya disangsikan, dan siapa yang jujur dan tulus.
Biar diskusi enggak bergeser dari masalah utama Pilgub yang kudu adu program malah jadi adu isu negatif, silakan tonton juga programnya untuk menyelesaikan masalah Jakarta:
Sebagai kaum minoritas di Indonesia, tentu saja saya secara alamiah ikut bergairah kalau ada orang Tionghoa yang bisa diandalkan mau terjun untuk memajukan Indonesia melalui kiprahnya di dunia politik. Tapi bukan sekadar masalah rasa kesamaan nasib saja. Bukan karena dia Tionghoa jadi saya dukung. Bukan hal sesepele itu. Saya percaya Pak Ahok memang orang yang idealis dan mau menyingsingkan lengan baju bekerja bagi kemajuan bangsa kita seperti yang sering dipromosikannya.
Mungkin Jokowi maupun Ahok punya banyak kekurangan, tapi saya rasa, kombinasi ini jauh lebih baik dari pasangan cagub/cawagub yang didukung banyak organisasi preman itu. Saya punya KTP Jakarta, tapi sayangnya enggak memungkinkan bagi saya untuk memilih di Pilkada kali ini. Saya berharap saja moga-moga masyarakat Jakarta yang punya hak pilih sadar bahwa pilihan mereka berpengaruh sangat besar bagi kelangsungan ibukota negara kita 5 tahun ke depan. Jangan biarkan berakhir sebagai tragedi.